Tag Archive | zoologi

Spirit Pertanian Lokal dan Kelestarian Capung

Oleh: Talitha Huriyah

 
 
Alam semesta hanya memiliki makna dalam kaitannya dengan manusia. Padahal manusianya sendiri telah kehilangan makna”. Claude Levi-Strauss
 
 

Alam sebagai entitas yang murni, mendasar, dan yang menjadi pengawal segala kehidupan terpinggirkan oleh hasil pemikiran manusia yang kemudian kita kenal dengan sebutan teknologi. Teknologi diciptakan dengan tujuan untuk melahirkan optimisme kemajuan suatu bangsa. Namun, sejak satu dekade terakhir kemajuan teknologi seolah mengaburkan makna back to nature.

Disadari atau tidak aktivitas manusia di era modern ini menitikberatkan pada hal-hal yang instan. Makanan instan, minuman instan, obat pemicu tidur yang instan, bahkan merambah pada pertanian instan, Kebiasaan instan telah mengakar dalam sektor pertanian guna menyeimbangi tuntutan pasar yang tinggi. Semisal pengggunaan pupuk anorganik untuk kesuburan tanaman atau pestisida kimiawi sebagai pembunuh hama dalam waktu cepat. Dalam jangka panjang akan berdampak pada stabilitas suatu ekosistem.

Serangga non-hama terutama dalam fase larva menjadi korban. Zat kimia dari pupuk maupun pestisida akan menyebar dalam rantai makanan yang berdampak pada predator di tingkat atasnya. Di sisi lain, residu yang tidak terdegradasi akan mencemari lingkungan tanah dan perairan. Beranjak dari hal tersebut, spirit nilai-nilai kearifan lokal perlu digalakkan kembali. Menghormati lingkungan dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem yang ada.

Pupuk dan pestisida nabati menjadi alternatif meminimalisir destruksi lingkungan. Keduanya dibuat dari bahan ramah lingkungan seperti daun-daunan, abu dapur dan rimpang berbagai tanaman yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Kemandirian ini mengindikasikan penerapan konsep integrated pest management atau pemberantasan hama terpadu yang dalam pertanian modern sekarang ini sangat dianjurkan.

Suku Badui Dalam sering menancapkan batang atau cabang daun pelah yang memiliki bau khas. Metode ini bertujuan untuk mencegah serangan hama penyakit dan hewan pengerat tikus. Batang atau cabang yang ditancapkan tersebut merupakan tempat yang sangat disukai capung. Rakyat Badui Dalam paham bahwa capung dalam fase nimfa dan dewasa  merupakan predator alami yang menempati tingkat teratas rantai makanan dan penghalau hama-hama tanaman padi. Setidaknya dengan keberadaan capung-capung ini populasi hama padi seperti ngengat dan walang sangit dapat dikendalikan.

Hampir setiap dari kita pernah mendengar kata capung bahkan melihat ujud dari serangga ini. Capung atau papatong (Sd.), kinjeng (Jw.), coblang  (Jw.), kasasiur (bjn) merupakan taksa insektivora yang sensitif dan mudah menunjukkan pengaruh gejala tekanan lingkungan akibat ulah manusia. Oleh karena itu, capung merupakan manifestasi kekayaan alam yang berpotensi sebagai bioindikator sistem abiotik.

Indonesia sendiri mempunyai 750 spesies dari total 5000 spesies capung di dunia. Bahkan yang membanggakan spesies endemik ditemukan di daerah Sulawesi yaitu Gynacantha penelope subfamili Aeshnidae. Hingga sekarang capung identik dengan wilayah dengan rimbunan pohon, asri dan sungai-sungai yang bersih. Jarang atau bahkan hampir tidak ditemukan capung di wilayah berpolutan dan daerah kota padat.

Hal ini berkaitan dengan siklus hidup capung yang tidak bisa jauh-jauh dari air. Telur-telur capung diletakkan di tempat yang aman di dalam air, biasanya di helai-helai daun tumbuhan air. Capung betina hanya meletakkan telurnya di perairan bersih serta bebas polusi. Larva capung akan hidup serta bekembang di dasar perairan dan mengalami metamorphosis heterometabola menjadi nimfa.

Fase berikutnya, nimfa capung hanya mampu bertahan di lingkungan perairan yang bersih. Di sisi lain, nimfa juga berperan dalam memakan jentik-jentik nyamuk yang dapat menularkan penyakit berbahaya seperti malaria & demam berdarah. Artinya, keberadaan capung dapat dijadikan sebagai bioindikator untuk memantau kualitas air di lingkungan sekitar kita.

 Namun pada kenyataannya aktivitas manusia terkhusus sektor pertanian ikut andil dalam penurunan populasi capung. Mengembalikan pertanian dalam lingkup spirit kearifan lokal memerlukan waktu lama dan dilakukan secara perlahan. Penting diingat bahwa kebiasaan yang terbentuk seperti layaknya kepribadian, biasanya resisten terhadap perubahan. Melalui kegiatan yang sistematis (penerapan sistem manajemen pertanian), kolektif (keselarasan berbagai elemen masyarakat), dan berkelanjutan (mulai jangka pendek sampai jangka panjang), maka secara perlahan namun pasti, kelestarian capung di Indonesia akan terjamin. Semoga!

Metabolit Sekunder Invertebrata Laut

Cryptotethya crypta and other sea sponge wonders

 Produksi metabolit sekunder merupakan salah satu cara organisme untuk mempertahankan eksistensinya dan sebagai tindakan responsif terhadap lingkungan. Metabolit sekunder ini digunakan untuk mencegah dan mempertahankan diri dari serangan predator, sebagai alat kompetisi, mencegah infeksi bakteri, membantu proses reproduksi dan mencegah sengatan sinar ultra violet. Lebih dari 10 % spons memiliki aktifitas sitotoksik yang dapat yang berpotensial untuk bahan obat-obatan. Secara umum pada spons ditemukan kelompok senyawa pada fraksi non polar seperti senyawa terpenoid, senyawa steroid dan asam lemak. Selain sebagai pertahanan diri, fungsi lain dari metabolit sekunder bagi invertebrate laut adalah :

1. Sebagai media interaksi dengan organisme lain

Para ahli ekologi telah mempelajari beberapa interaksi antar organisme sehubungan dengan populasi dan komunitasnya. Interaksi itu tidak hanya menyangkut hubungan antara mangsa, predator maupun kompetitor, tetapi juga hubungan interaksi positif yang menyangkut fasilitas, komensalisme dan mutualisme. Salah satu bukti keterlibatan metabolit sekunder dalam interaksi komensalisme adalah seperti yang terjadi pada kepiting hermit (Dardanus venosus dan Pagurus pollicaris) dengan anemon. Jenis kepiting ini, menempatkan anemon dari jenis (Calliactis tri color) ke dalam cangkangnya untuk penahan an diri. Dengan rangsangan fisik dari kepiting, Calliactis akan mengeluarkan substrat yang dapat mengusir predator, seperti bintang laut maupun cacing laut.

2. Mencegah terjadinya infeksi dari mikroorganisme (antifouling)

Udang Palaemon macrodactylus dilaporkan resisten terhadap jamur pathogen Lagenidium callinectes. Hasil eksperimen membuktikan bahwa resistansi dari udang tersebut disebabkan oleh adanya senyawa antijamur 2,3-indolinedione (istatin) yang dihasilkan oleh bakteri Alteromonas sp. Yang hidup berasosiasi dengan udang Palaemon macrodactylus (GIL TURNES étal, 1989).

3. Sebagai media dalam proses reproduksi

Feromon adalah sebutan substansi kimia yang digunakan untuk membantu proses reproduksi. Sebuah penelitian melaporkan bahwa amphipod Microdeutopus gryllotalpa jantan tertarik dengan betina karena adanya suatu senyawa yang menimbulkan aroma. Senyawa tersebut, ternyata tidak dihasilkan oleh amphipod jantan maupun betina, tetapi diproduksi oleh alga hijau Ulva sp. (Borowsky, 1984).

Selain fungsi fungsi tersebut, terbukti pula bahwa metabolit sekunder dari berbagai invertebrata laut dapat dimanfaatkan dalam kehidupan manusia sebagai bahan obat-obatan. Pemanfaatan metabolit sekunder dari laut sebagai zat aktif dalam obat mulai berkembang sejak ditemukannya arabinosyl nucleosides spongothymidine dan spongouridine, dalam spons Crytpotethya crypta pada tahun 1951 oleh Bergmann and Eeney. Kedua senyawa tersebut digunakan sebagai model struktur kimia dalam produksi obat antiviral dan antikanker Ara A dan Ara C. Sejak itu penelitian bahan bioaktif dari laut berkembang dengan pesat. Beraneka- ragam senyawa baru yang diisolasi dari organisme laut sebagian besar mempunyai potensi sebagai bahan biomedika. Tingkat keragaman yang tinggi dan keunikan senyawa baru yang ditemukan dalam organisme laut merupakan pengaruh dari tingginya biodiversitas organisme laut. Selain itu, pengaruh lingkungan laut seperti kadar garam, rendahnya intensitas cahaya, adanya arus maupun kompetisi yang kuat mendorong organisme laut menghasilkan metabolit sekunder \ yang mempunyai struktur kimia relative berbeda dengan organisme darat. Lingkungan laut sangat mempengaruhi keaktifan dari metabolit sekunder yang dihasilkan oleh biotanya.

Tentang Kodok (Bufo melanosticus)

1. Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Kodok Dewasa

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Bufonidae

Genus : Bufo

Spesies : Bufo melanosticus

2. Morfologi

Kodok adalah hewan amfibia yang paling dikenal orang di Indonesia. Kodok bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak berekor (anura). Kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang. Kodok berukuran sedang, yang dewasa berperut gendut, berbintil-bintil kasar. Bangkong jantan panjangnya (dari moncong ke anus) 55-80 mm, betina 65-85 mm. Di atas kepala terdapat gigir keras menonjol yang bersambungan, mulai dari atas moncong; melewati atas, depan dan belakang mata; hingga di atas timpanum (gendang telinga).

Kodok hidup menyebar luas, terutama di daerah tropis yang berhawa panas. Makin dingin tempatnya, seperti di atas gunung atau di daerah bermusim empat (temperate), jumlah jenis kodok cenderung semakin sedikit. Salah satunya ialah karena kodok termasuk hewan berdarah dingin, yang membutuhkan panas dari lingkungannya untuk mempertahankan hidupnya dan menjaga metabolisme tubuhnya. Hewan ini dapat ditemui mulai dari hutan rimba, padang pasir, tepi-tepi sungai dan rawa, perkebunan dan sawah, hingga ke lingkungan pemukiman manusia. Kodok membela diri dengan melompat jauh, mengeluarkan lendir dan racun dari kelenjar di kulitnya.

3. Reproduksi Kodok

Kodok kawin pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau pada ketika menjelang hujan. Pada saat itu kodok-kodok jantan akan berbunyi-bunyi untuk memanggil betinanya, dari tepian atau tengah perairan. Beberapa jenisnya, seperti kodok tegalan (Fejervarya limnocharis) dan kintel lekat alias belentung (Kaloula baleata), kerap membentuk ‘grup nyanyi’, di mana beberapa hewan jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan. Pembuahan pada kodok dilakukan di luar tubuh. Kodok jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat yang bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur Lanjut membaca

What a Great Phenomenon in Indonesia!!


Can you guess where the weird phenomenon could have taken place in Indonesia? Yeah.. you’re right!! Maybe one of you guess bout Trunyan at Bali or Kakaban Island at East Kalimantan! Yup!! Both of them have mysteries remain uncovered. Come on, let’s check it out!!

“Trunyan Village”

Trunyan Village is located at Bali Province, exactly beside Batur lake about 5o kilometers northeast of Denpasar. The Trunyanese claim themselves to be descendants of the original Balinese called Bali Aga. Trunyan people have extraordinary habit unlike most Hindu people in Bali. They will lay the deceased out to root under the sacred tree. This tree known as Taru Menyan which believed to be the earthly form of sky goddess. Taru Menyan produces some secondary metabolite, it’s a kind of perfumed  that adsorbs bad smell from dead bodies. So, the legend of Trunyan Village comes from this tree, Taru Menyan.

“Kakaban Island” Lanjut membaca

BUKAN SEKEDAR GOMBAL WARNING

Firstly this content isn’t bout the book title “Gombal Warning” by Burhan Shodiq.. but truly Global Warming.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. 30 : 41-42)

Hujan asam disebabkan oleh pencemaran udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil yaitu Lanjut membaca

CENDRAWASIH; BIRDS OF PARADISE  (PARADISAEIDAE)

Burung Cendrawasih merupakan salah satu kekayaan fauna Indonesia. Sangat disayangkan, populasi burung ini semakin lama semakin menurun. Bisa karena perburuan liar maupun perdagangan ilegal. Sebagai warga negara yang baik mari bersama-sama menjaga dan melestarikan salah satu aset bangsa kita ini http://emo.huhiho.com

Burung ini dikelompokkan dalam familia Paradiseidae karena dianggap sebagai burung milik para dewata penghuni surga. Warna bulunya sangat indah terutama pada yang jantan. Seolah-olah kakinya tidak ada karena tertutup oleh bulunya dan melompat-lompat ke dahan seperti bidadari.

1. Cicinnurus regius ( Cendrawasih Raja)

Morfologi:

Jantan kecil seperti tanpa ekor, perut putih, kepala dan punggung merah terang, dua kawat ekor masing-masing berujung piringan bulu hijau.  Betina berpalang samar, halus di bagian bawah,muka sawo matang pucat.

ekor berkawat 2

piringan bulu hijau di ujung ekor

Perilaku: Lanjut membaca

BELAJAR DARI ONTA (Camelus bactrianus)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan onta bagaimana dia diciptakan, Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
(QS. Al-Ghashiyah, 88: 17-20)

Segala sesuatu di alam semesta beserta ciri-ciri yang ada pada ciptaan ini menunjukkan Ilmu dan Kekuasaan Allah, Sang Pencipta yang Maha Agung. Allah seringkali menyatakan hal ini dalam Alqur’an, di mana ditegaskan bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya pada hakikatnya adalah ayat, yakni tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ayat ini juga memiliki arti peringatan atau pelajaran bagi manusia. Lanjut membaca

Varanus komodoensis ( Biawak Komodo)

“Penguasa di Pulau Komodo” yang oleh penduduk sekitar disebut Ora adalah kadal terbesar di dunia, panjangnya mencapai 3 m, berat antara 80-140 kg. Mempunyai indera yang kuat dan dianggap sebagai reptil yang paling maju intelegensinya. Komodo adalah karnivora dan memburu mangsanya dengan mengendap diam-diam dan menyergap dengan cepat, dapat berlari dengan perut tanpa menyentuh tanah dengan kecepatan sampai 20 km/jam. Berenang sangat baik dan mampu menyelam sedalam 4.5 meter; serta pandai memanjat pohon menggunakan cakar mereka yang kuat. Untuk menangkap mangsa yang berada di luar jangkauannya, komodo dapat berdiri dengan kaki belakangnya dan menggunakan ekornya sebagai penunjang. Dengan bertambahnya umur, komodo lebih menggunakan cakarnya sebagai senjata, karena ukuran tubuhnya yang besar menyulitkannya memanjat
Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, Lanjut membaca