Upin: “Ipin.. Ipin!! Sini!!”
Ipin: “Ape Upin!??”
Upin: “Ha..! Kau nak tengok orang yang baca sms ni..??”
Ipin: “Mane-mane..! Waaaa… cakep-nyeee.. macam ayam guriinggg..!!”
Sejenak Litha ketawa baca tulisan di atas. Aya-aya wae..
Ya.. tulisan di atas adalah salah satu sms dari temen Litha. Salah satu bidadari dari jutaan bidadari yang ada di bumi. Litha rasa gak terlalu hiperbolis jika menyebut mereka dengan bidadari.
Di majelis cahaya itu para bidadari sangat bervariasi. Ada akhwat haroki dengan aksi sebagai santapan sehari-hari, akhwat kalem dengan hafalannya yang bejibun, akhwat kritis… tak pernah lelah bertanya saat sesi qhodoya, ada juga akhwat yg rajin berbagi rezki. Meski terkadang lelah mendera, setampuk amanah telah menunggu namun majelis ini bisa menjadi tempat rehat sejenak. Mengisi kekosongan ilmu dan ruhiyah yang harus terus di-upgrade.
Suatu saat Litha pasti merindukan kalian. Kekonyolan, kepolosan ataupun keributan kalian saat diminta ngasih tausiyah. Kebingungan kalian dengan segala persoalan yang ada. Semua itu menjadikan majelis ini tidak kering dan gersang, tempat yang enjoy untuk merefresh pikiran. Bukan tempat yang menyeramkan ataupun dingin sedingin kuburan. Yup.. ini semua karena empati dan murah senyumnya kalian *amat sangat murah senyum malah* Hmmm… karena kalian adalah bidadari yang sangat penuh canda. Lanjut membaca




Trunyan Village is located at Bali Province, exactly beside Batur lake about 5o kilometers northeast of Denpasar. The Trunyanese claim themselves to be descendants of the original Balinese called Bali Aga. Trunyan people have extraordinary habit unlike most Hindu people in Bali. They will lay the deceased out to root under the sacred tree. This tree known as Taru Menyan which believed to be the earthly form of sky goddess. Taru Menyan produces some secondary metabolite, it’s a kind of perfumed that adsorbs bad smell from dead bodies. So, the legend of Trunyan Village comes from this tree, Taru Menyan.




