Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sengaja dibentuk sebagai lembaga independen untuk memberantas praktik korupsi di Indonesia. Kendati demikian, sejauh ini kinerjanya menunjukkan pasang surut. Lalu, bagaimanakah kalangan kampus menilai kinerja KPK selama ini?
Butuh Keselarasan Komponen Strategis
Talitha Huriyah
Universitas Sebelas Maret
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan institusi independen yang menjadi tumpuan harapan menuntaskan kasus korupsi di negeri ini. Beberapa kasus yang behasil dikuak akhir-akhir ini seperti korupsi proyek pembangunan Wisma Atlet dan korupsi penyuapan hakim. Mutu kinerja KPK bisa dikatakan cukup bagus ditilik dari indeks korupsi di Indonesia yang semula 1,9 pada tahun 2003, meningkat menjadi 2,8 di tahun 2011. Angka ini merupakan buah dari perbaikan sistem administrasi serta penegakan di bidang hukum.
Namun pada 2010, kinerja KPK mendapat sorotan dari berbagai pihak dengan indikasi belum terselesaikannya beberapa kasus korupsi. Hal ini hendaknya menjadi pemantik untuk perbaikan kualitas KPK. Salah satunya dengan pembuatan road map pemberantasan korupsi nasional agar pelaksanaan pemberantasan korupsi lebih pro aktif, tidak hanya terfokus di tingkat pusat namun juga merambah hingga daerah.
Menurut hemat saya, peningkatan kinerja KPK membutuhkan keselarasan dari berbagai komponen strategis, yakni pemerintah, swasta dan masyarakat. Pemerintah di sini sebagai leader dalam pembenahan sistem pemberantasan korupsi. Diawali dari aparat penegak hukum yang ibaratnya sebagai “penjaga gawang” seperti Mahkamah Agung, jaksa, polisi serta TNI. Jika penegak hukumnya sudah bersih kemudian menyusul dari sektor lembaga pelayanan publik, seperti pajak, bea cukai, imigrasi, serta dari elemen swasta dan masyarakat.
*Harian Joglosemar, 9 Juni 2011





“Jangan pulang pakai motor. Di jalan rawan kena hujan abu, pasir atau kerikil. Riskan di paru-paru. Di mata juga pedih,” terang Bapak di horn seberang.
Kondisi yang memprihatinkan ketika awan panas mulai keluar, biasanya diikuti suara yang bergemuruh. Anak-anak dan remaja putri mulai menangis. Kepanikan mulai terjadi ketika proses evakuasi berlangsung. Hari ini zona bahaya diperluas menjadi 20km dari puncak berimbas pada membludaknya pengungsi di beberapa titik. 


Dalam cover majalah ini menampilkan sosok Sukarno. Hmm… apa korelasi antara National Geographic dan Sukarno? Menyoroti soal sejarahkah? Mengingat IPS Sejarah adalah salah satu mata pelajaran favorit saya saat SMP. Namun, membaca buku setebal Api Sejarah-nya A. M Suryanegara saja kepala ini sudah liyeur euii! Dan benar saja, edisi Agustus masih berhubungan dengan kemerdekaan RI. Kubuka sekilas, hampir di setiap halamannya kita disuguhi foto hasil jepretan fotografer profesional. Foto-foto ini seakan bisa berbicara dan menggabungkan beberapa serpihan kecil dari suatu cerita besar.
Miris hati ini melihat sesosok anak berusia belasan tahun. Pakaian kumal jarang bertemu dengan setrika kukira. Kulit kusam ditambah dengan rambut kemerahan. Matanya sayu tampak sedang menikmati hilir mudik berbagai kendaraan di belantara kota. Sesekali kulihat ia memegangi perutnya. Dengan sigap ia masuk bus kota. Tak pernah absen ia mengukur jalanan ibu kota. Bibirnya mulai mendendangkan lagu ditemani alunan alat musik sangat sederhana. Ah.. mimpi…