Tag Archive | aRtikeL

이슬람교도 Merenda Keteguhan dan Kesabaran

“Apapun yg qt lakukan” SELALU ada yg melihat. Minimal ALLAH. Bisa juga malaikat, jin qorin, syaithan,   manusia, hewan, tanaman & serta makhluq2 Allah yg lainnya.”

Sebuah pesan singkat yang Litha terima dari seorang teman. Pada mulanya agak ngeri juga, mengingat pesan tersebut dikirim sekitar jam 11 malam dan kondisi kos sudah sepi.

Namun.. ketika direnungi lebih lama sebenarnya ini menjadi suatu bentuk pengingatan bagi kita tentang adanya muraqabatullah. Allah senantiasa mengawasi kita di setiap kondisi, mengetahui apa yang kita pikirkan hingga hal terkecil bahkan untuk sebuah niat. Hal abstrak yang fisiknya tak bisa kita indra. Sebuah rem kendali terhadap perbuatan buruk kita.

Pribadi yang sadar akan pengawasan samawi (dari langit) pada hakikatnya menggunakan jasad sebagai sarana bagi ruh untuk menghamba pada-Nya. Betapapun sakit yang dirasa, payah yang semakin bertambah, kehilangan yang tak berkurang.. tak seharusnya menghentikan langkah kita untuk tetap teguh meniti jalan kebaikan.

Tsabat ini akan teruji ketika masalah muncul di depan kita. Bagaimana kita mengkonversi setiap masalah yang ada sebagai peluang untuk lulus ke tahap tingkat awal. Keberhasilan yang diraih akan menciptakan militansi sebagai kunci pembuka pintu-pintu keberhasilan berikutnya.

“… mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah,   tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).  Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” Ali ‘Imran (3): 146

Mari kita cermati bersama ayat di atas. Tidak lemah karena bencana (red: ujian), tidak patah semangat. Sebab orang mukmin memandang hari akhir sangat dekat. Orientasi setiap aktivitas yang dikerjakakan berupa mihwar pada akhirat. Inilah yang menjadikan generasi para salafus shalih terus menerus berfastabiqul khairat.

Pernah dengar upaya yang ditempuh musuh-musuh untuk menghancurkan agama ini? Berapa banyak biaya yang ditelan untuk mempersenjatai Israel demi memblokade Palestina? Berapa waktu yang sudah mereka habiskan utnuk merancang serangkaian cara melenyapkan umat muslim?

Nah, sahabat!

Hendaklah kita hapuskan rasa inferior dalam diri ini, merasa rendah ketika berkompetisi. Padahal Allah telah menegaskan di ayat tersebut, “tidak (pula) menyerah (kepada musuh).” Sehingga ada perspektif positif yang bisa kita bangun. Kita sama-sama berkompetisi dengan musuh-musuh Allah namun yang membedakan kita dengan mereka adalah fastabiqul khairat. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Di sana ada sebuah harapan untuk mereguk pahala yang sekali lagi dibutuhkan kesabaran berlipat untuk meraihnya.

“Wahai orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu..”     Ali ‘Imran (3): 200

Akhirnya,

Dengan segala harap kepada-Nya, semoga kita senantiasa teguh dan sabar merenda pahala untuk dituai kelak.

Bumi Allah Solo, 3 Dzulhijjah 1432H

#diketik saat menata kembali kepingan-kepingan peta hidup (=

Spirit Pertanian Lokal dan Kelestarian Capung

Oleh: Talitha Huriyah

 
 
Alam semesta hanya memiliki makna dalam kaitannya dengan manusia. Padahal manusianya sendiri telah kehilangan makna”. Claude Levi-Strauss
 
 

Alam sebagai entitas yang murni, mendasar, dan yang menjadi pengawal segala kehidupan terpinggirkan oleh hasil pemikiran manusia yang kemudian kita kenal dengan sebutan teknologi. Teknologi diciptakan dengan tujuan untuk melahirkan optimisme kemajuan suatu bangsa. Namun, sejak satu dekade terakhir kemajuan teknologi seolah mengaburkan makna back to nature.

Disadari atau tidak aktivitas manusia di era modern ini menitikberatkan pada hal-hal yang instan. Makanan instan, minuman instan, obat pemicu tidur yang instan, bahkan merambah pada pertanian instan, Kebiasaan instan telah mengakar dalam sektor pertanian guna menyeimbangi tuntutan pasar yang tinggi. Semisal pengggunaan pupuk anorganik untuk kesuburan tanaman atau pestisida kimiawi sebagai pembunuh hama dalam waktu cepat. Dalam jangka panjang akan berdampak pada stabilitas suatu ekosistem.

Serangga non-hama terutama dalam fase larva menjadi korban. Zat kimia dari pupuk maupun pestisida akan menyebar dalam rantai makanan yang berdampak pada predator di tingkat atasnya. Di sisi lain, residu yang tidak terdegradasi akan mencemari lingkungan tanah dan perairan. Beranjak dari hal tersebut, spirit nilai-nilai kearifan lokal perlu digalakkan kembali. Menghormati lingkungan dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem yang ada.

Pupuk dan pestisida nabati menjadi alternatif meminimalisir destruksi lingkungan. Keduanya dibuat dari bahan ramah lingkungan seperti daun-daunan, abu dapur dan rimpang berbagai tanaman yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Kemandirian ini mengindikasikan penerapan konsep integrated pest management atau pemberantasan hama terpadu yang dalam pertanian modern sekarang ini sangat dianjurkan.

Suku Badui Dalam sering menancapkan batang atau cabang daun pelah yang memiliki bau khas. Metode ini bertujuan untuk mencegah serangan hama penyakit dan hewan pengerat tikus. Batang atau cabang yang ditancapkan tersebut merupakan tempat yang sangat disukai capung. Rakyat Badui Dalam paham bahwa capung dalam fase nimfa dan dewasa  merupakan predator alami yang menempati tingkat teratas rantai makanan dan penghalau hama-hama tanaman padi. Setidaknya dengan keberadaan capung-capung ini populasi hama padi seperti ngengat dan walang sangit dapat dikendalikan.

Hampir setiap dari kita pernah mendengar kata capung bahkan melihat ujud dari serangga ini. Capung atau papatong (Sd.), kinjeng (Jw.), coblang  (Jw.), kasasiur (bjn) merupakan taksa insektivora yang sensitif dan mudah menunjukkan pengaruh gejala tekanan lingkungan akibat ulah manusia. Oleh karena itu, capung merupakan manifestasi kekayaan alam yang berpotensi sebagai bioindikator sistem abiotik.

Indonesia sendiri mempunyai 750 spesies dari total 5000 spesies capung di dunia. Bahkan yang membanggakan spesies endemik ditemukan di daerah Sulawesi yaitu Gynacantha penelope subfamili Aeshnidae. Hingga sekarang capung identik dengan wilayah dengan rimbunan pohon, asri dan sungai-sungai yang bersih. Jarang atau bahkan hampir tidak ditemukan capung di wilayah berpolutan dan daerah kota padat.

Hal ini berkaitan dengan siklus hidup capung yang tidak bisa jauh-jauh dari air. Telur-telur capung diletakkan di tempat yang aman di dalam air, biasanya di helai-helai daun tumbuhan air. Capung betina hanya meletakkan telurnya di perairan bersih serta bebas polusi. Larva capung akan hidup serta bekembang di dasar perairan dan mengalami metamorphosis heterometabola menjadi nimfa.

Fase berikutnya, nimfa capung hanya mampu bertahan di lingkungan perairan yang bersih. Di sisi lain, nimfa juga berperan dalam memakan jentik-jentik nyamuk yang dapat menularkan penyakit berbahaya seperti malaria & demam berdarah. Artinya, keberadaan capung dapat dijadikan sebagai bioindikator untuk memantau kualitas air di lingkungan sekitar kita.

 Namun pada kenyataannya aktivitas manusia terkhusus sektor pertanian ikut andil dalam penurunan populasi capung. Mengembalikan pertanian dalam lingkup spirit kearifan lokal memerlukan waktu lama dan dilakukan secara perlahan. Penting diingat bahwa kebiasaan yang terbentuk seperti layaknya kepribadian, biasanya resisten terhadap perubahan. Melalui kegiatan yang sistematis (penerapan sistem manajemen pertanian), kolektif (keselarasan berbagai elemen masyarakat), dan berkelanjutan (mulai jangka pendek sampai jangka panjang), maka secara perlahan namun pasti, kelestarian capung di Indonesia akan terjamin. Semoga!

Kinerja KPK dalam Penanganan Kasus Korupsi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sengaja dibentuk sebagai lembaga independen untuk memberantas praktik korupsi di Indonesia. Kendati demikian, sejauh ini kinerjanya menunjukkan pasang surut. Lalu, bagaimanakah kalangan kampus menilai kinerja KPK selama ini?

Butuh Keselarasan Komponen Strategis

Talitha Huriyah

Universitas Sebelas Maret

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan institusi independen yang menjadi tumpuan harapan menuntaskan kasus korupsi di negeri ini. Beberapa kasus yang behasil dikuak akhir-akhir ini seperti korupsi proyek pembangunan Wisma Atlet dan korupsi penyuapan hakim.  Mutu kinerja KPK bisa dikatakan cukup bagus ditilik dari indeks korupsi di Indonesia yang semula 1,9 pada tahun 2003, meningkat menjadi 2,8 di tahun 2011. Angka ini merupakan buah dari perbaikan sistem administrasi serta penegakan di bidang hukum.

Namun pada 2010, kinerja KPK mendapat sorotan dari berbagai pihak dengan indikasi belum terselesaikannya beberapa kasus korupsi. Hal ini hendaknya menjadi pemantik untuk perbaikan kualitas KPK. Salah satunya dengan pembuatan road map pemberantasan korupsi nasional agar pelaksanaan pemberantasan korupsi lebih pro aktif, tidak hanya terfokus di tingkat pusat namun juga merambah hingga daerah.

Menurut hemat saya, peningkatan kinerja KPK membutuhkan keselarasan dari berbagai komponen strategis, yakni pemerintah, swasta dan masyarakat. Pemerintah di sini sebagai leader dalam pembenahan sistem pemberantasan korupsi. Diawali dari aparat penegak hukum yang ibaratnya sebagai “penjaga gawang” seperti Mahkamah Agung, jaksa, polisi serta TNI. Jika penegak hukumnya sudah bersih kemudian menyusul dari sektor lembaga pelayanan publik, seperti pajak, bea cukai, imigrasi, serta dari elemen swasta dan masyarakat.

*Harian Joglosemar, 9 Juni 2011

Antara Terorisme dan Mahasiswa

Aksi terorisme yang belakangan meresahkan masyarakat kita diketahui banyak melibatkan kalangan terpelajar. Bagaimanakah mahasiswa sebagai bagian kalangan terpelajar menanggapi hal ini?

Suplemen Agama Minim

Talitha Huriyah

Universitas Sebelas Maret

Ibarat dua sisi mata uang, mahasiswa sebagai intelektual muda mempunyai potensi sebagai agent of change dalam hal yang baik maupun buruk. Saya merasa miris ketika segudang karakter pemuda seperti kreatif, kritis, energik serta inovatif membelok dalam kasus terorisme yang marak akhir-akhir ini. Intimidasi serta pencucian otak merupakan inisiasi yang diduga sebagai bentuk perekrutan gerakan Negara Islam Indonesia.

Menurut saya bisa jadi hal ini disebabkan suplemen nilai agama yang minim didukung dengan kelabilan emosi. Selain itu, mahasiswa juga memiliki akses yang banyak di jejaring sosial dunia maya seperti Twitter, Facebook yang acapkali menjadi sarana merekrut anggota baru. Dari saya pribadi sebaiknya lebih berhati-hati dengan orang yang baru saja dikenal serta menguatkan pemahaman agama kita masing-masing.

*Harian Joglosemar, 5 Mei 2011

Bangga Menjadi Pemuda Indonesia Part.2

Penjelajahan ini dimulai di Kota Jakarta yang saat itu oleh orang barat dikenal dengan Batavia. Kota tersebut masih memiliki suasana pedesaan yang mencolok. Burung layang-layang keluar masuk gedung-gedung bank yang berdiri tegak di atas juru tulis dengan kepala tertunduk. Membayangkan saat itu, pasti Jakarta masih bebas polusi. Tidak seperti saat ini, populasi teramat padat, penurunan tanah terus terjadi, polusi dimana-mana. Memunculkan isu ibu kota negara akan dipindah. Semoga tidak di Solo atau di Jogja.. aminn :)

Kota Surabaya dapat dijelaskan dengan statistik. Ketika lowongan posisi juru ketik dibuka oleh US Information Service, tak satu pun pelamar yang datang selama berminggu-minggu. Namun, untuk seorang seniman pembuat poster, 50 pelamar langsung datang, mayoritas seniman berkualitas! Saya terkejut, Surabaya sebagai kota industri dan metropolis ternyata memiliki rekam jejak seniman papan atas.

Kapal Pinisi Suku Bugis

Di Celebes (Sulawesi) banyak kapal-kapal tertambat berdampingan. Mengingatkan pelaut ulung pulau ini. Sebelum Belanda dan Portugis masuk perairan ini, perahu-perahu besar Makasar telah berlayar sepanjang pesisir Cathay hingga Formosa, ke arah barat Madagaskar. Bernavigasi lewat bintang dengan akurasi yang mengagumkan. Salut! Aset yang berharga! Entah mengapa jika mendengar kata Makasar yang terlintas di benak saya adalah tawuran mahasiswa. Terlalu sering saya melihat berita tersebut di TV, merusak berbagai infrastruktur yag ada, sayang….

Borneo (Kalimantan) dengan Lanjut membaca

Bangga Menjadi Pemuda Indonesia Part.1

Malam ini menyelesaikan membaca The National Geographic Magazine Indonesia. Meski cetakan Agustus 2008 majalah ini mengajak syaraf mataku menelisik lebih dalam. Dibandrol cukup mahal dengan harga Rp 50.000. Uang segitu biasanya lebih sering saya gunakan untuk membeli buku motivasi, novel, ataupun buku hasil ngubek-ubek di Islamic Book Fair atau Gramedia. Ya.. National Geographic. Terlintas dalam benak saya berisi tentang cerita kehidupan satwa ataupun hal yang berbau-bau Biologi yang sering ditayangkan di LCD lobi jurusan kampus. Tentu saja dalam bahasa Inggris (-_-) > Selain itu biasa menyoroti masalah budaya suatu bangsa, perubahan iklim dsb.

Dalam cover majalah ini menampilkan sosok Sukarno. Hmm… apa korelasi antara National Geographic dan Sukarno? Menyoroti soal sejarahkah? Mengingat IPS Sejarah adalah salah satu mata pelajaran favorit saya saat SMP. Namun, membaca buku setebal Api Sejarah-nya A. M Suryanegara saja kepala ini sudah liyeur euii! Dan benar saja, edisi Agustus masih berhubungan dengan kemerdekaan RI. Kubuka sekilas, hampir di setiap halamannya kita disuguhi foto hasil jepretan fotografer profesional. Foto-foto ini seakan bisa berbicara dan menggabungkan beberapa serpihan kecil dari suatu cerita besar.

Sebagai contoh foto karya Joel Sartore, beruang kutub di atas tumpukan bangkai paus dengan lanskap halus Alaska. Foto ini bisa mengisahkan tentang Lanjut membaca

Imazonation-Phantasy Poetica, Sebuah Buku Subyektivitas Penjelajahan Intelektualitas

Alhamdulillahirobbil’alamin.. salah satu kado terindah bagi Litha di Bulan Ramadhan ini adalah lahirnya buku Imazonation-Phantasy Poetica. Sebuah buku antologi cerpen dan puisi hasil ‘keroyokan’ komunitas penulismuda Indonesia. Litha sangat bersyukur bisa menjadi salah satu bagian dalam buku ini.

Untuk pemesanan dengan potongan harga spesial silahkan hubungi
Email: talitha_huriyah@yahoo.co.id
Atau bisa juga lewat blog ini

Terimakasih Litha ucapkan kepada Saudara Sardi yang berkenan meresensi buku ini di HARIAN SEMARANG. Berikut resensinya: Lanjut membaca

Belajar dengan Pak Horta, Guru Berambut Rumput!!!

Bermain adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar motivasi dalam diri semata-mata untuk mendapat kesenangan. Aktivitas bermain dikenal hanya untuk kalangan balita dan anak usia sekolah dasar. Bedanya, untuk anak SD sudah melibatkan unsur kompetisi sedangkan untuk balita murni atas dorongan mencapai kesenangan. Sedangkan untuk kalangan remaja dan dewasa lebih dikenal dengan istilah berkreasi.

Berkebun merupakan salah satu aktivitas bermain yang semakin jarang ditemukan di sekolah-sekolah. Banyak faktor mulai dari materi pembelajaran anak sekarang lebih dituntut pada kemampuan bahasa inggris, matematika, musik dll. Selain itu lahan hijau banyak yang disulap menjadi pusat perbelanjaan, real estate maupun gedung-gedung perkantoran terutama di kota-kota besar. Tidak mengherankan jika polusi udara meningkat tajam, banjir menjadi tamu langganan ibu kota dan efeknya pemanasan global semakin parah.

Sungguh ironis ketika Lanjut membaca

MIMPIKU UNTUK INDONESIA

Miris hati ini melihat sesosok anak berusia belasan tahun. Pakaian kumal jarang bertemu dengan setrika kukira. Kulit kusam ditambah dengan rambut kemerahan. Matanya sayu tampak sedang menikmati hilir mudik berbagai kendaraan di belantara kota. Sesekali kulihat ia memegangi perutnya. Dengan sigap ia masuk bus kota. Tak pernah absen ia mengukur jalanan ibu kota. Bibirnya mulai mendendangkan lagu ditemani alunan alat musik sangat sederhana. Ah.. mimpi…

Namun tidak!! Ini nyata.. bukan mimpi. Ternyata bukan hanya sesosok anak, namun berpuluh-puluh, beratus-ratus hingga mencapai angka ribuan bukanlah hal mustahil ia muncul di negri tercinta ini. Indonesia… Pengamen, anak jalanan dan tuna wisma merebak bak cendawan di musim penghujan. Itu semua bukan cita-cita yang diinginkan mereka. Namun kendala ekonomi, kebutuhan sehari-hari yang mendesak, susahnya lapangan pekerjaan memaksa ia menyandang profesi pengamen. Profesi yang dirasa termudah dan tercepat menghasilkan uang.

Hal yang kontras ketika Lanjut membaca

RITME ON AIR, PYLOX DAN KNALPOT

Ketika raga di puncak senyap

Tersapu wangi bayu semilir

Sayup mata menangkap arti

Lama indera tak berinai embun

Terhijab fatamorgana buana

Kering sajadah pun rindu kau kecup

========================

Menutup senja dengan melindas jalanan Surakarta. Gurindam.. dam.. dam.. talu jantungku.  Bias utara entah selatan. Jalanan tak berujung. Memandang kerling manis jarum bensin di ambang EmptY. Pias… Hangat  tersambut seorang sahabat media UKMI. “Mbak, entar siaran di HIZ FM bisa?” Renyah simfoni hatiku. Menembus batas… berlarian di padang sion putih tak bertuan. Tersenyum.. puas…. Suatu ketika lisan bertutur “Aku pernah melakukannya!”

Fyuuuhhh, Alhamdulillah. Bingkai hati tertoreh aksara  emas http://www.amatsangat_lega.com Yup, public speaking is my weakness. I prefer Lanjut membaca