Sebuah pesan singkat yang Litha terima dari seorang teman. Pada mulanya agak ngeri juga, mengingat pesan tersebut dikirim sekitar jam 11 malam dan kondisi kos sudah sepi.
Namun.. ketika direnungi lebih lama sebenarnya ini menjadi suatu bentuk pengingatan bagi kita tentang adanya muraqabatullah. Allah senantiasa mengawasi kita di setiap kondisi, mengetahui apa yang kita pikirkan hingga hal terkecil bahkan untuk sebuah niat. Hal abstrak yang fisiknya tak bisa kita indra. Sebuah rem kendali terhadap perbuatan buruk kita.
Pribadi yang sadar akan pengawasan samawi (dari langit) pada hakikatnya menggunakan jasad sebagai sarana bagi ruh untuk menghamba pada-Nya. Betapapun sakit yang dirasa, payah yang semakin bertambah, kehilangan yang tak berkurang.. tak seharusnya menghentikan langkah kita untuk tetap teguh meniti jalan kebaikan.
Tsabat ini akan teruji ketika masalah muncul di depan kita. Bagaimana kita mengkonversi setiap masalah yang ada sebagai peluang untuk lulus ke tahap tingkat awal. Keberhasilan yang diraih akan menciptakan militansi sebagai kunci pembuka pintu-pintu keberhasilan berikutnya.
“… mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” Ali ‘Imran (3): 146Mari kita cermati bersama ayat di atas. Tidak lemah karena bencana (red: ujian), tidak patah semangat. Sebab orang mukmin memandang hari akhir sangat dekat. Orientasi setiap aktivitas yang dikerjakakan berupa mihwar pada akhirat. Inilah yang menjadikan generasi para salafus shalih terus menerus berfastabiqul khairat.
Pernah dengar upaya yang ditempuh musuh-musuh untuk menghancurkan agama ini? Berapa banyak biaya yang ditelan untuk mempersenjatai Israel demi memblokade Palestina? Berapa waktu yang sudah mereka habiskan utnuk merancang serangkaian cara melenyapkan umat muslim?
Nah, sahabat!
Hendaklah kita hapuskan rasa inferior dalam diri ini, merasa rendah ketika berkompetisi. Padahal Allah telah menegaskan di ayat tersebut, “tidak (pula) menyerah (kepada musuh).” Sehingga ada perspektif positif yang bisa kita bangun. Kita sama-sama berkompetisi dengan musuh-musuh Allah namun yang membedakan kita dengan mereka adalah fastabiqul khairat. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Di sana ada sebuah harapan untuk mereguk pahala yang sekali lagi dibutuhkan kesabaran berlipat untuk meraihnya.
“Wahai orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu..” Ali ‘Imran (3): 200Akhirnya,
Dengan segala harap kepada-Nya, semoga kita senantiasa teguh dan sabar merenda pahala untuk dituai kelak.
Bumi Allah Solo, 3 Dzulhijjah 1432H
#diketik saat menata kembali kepingan-kepingan peta hidup (=




Dalam cover majalah ini menampilkan sosok Sukarno. Hmm… apa korelasi antara National Geographic dan Sukarno? Menyoroti soal sejarahkah? Mengingat IPS Sejarah adalah salah satu mata pelajaran favorit saya saat SMP. Namun, membaca buku setebal Api Sejarah-nya A. M Suryanegara saja kepala ini sudah liyeur euii! Dan benar saja, edisi Agustus masih berhubungan dengan kemerdekaan RI. Kubuka sekilas, hampir di setiap halamannya kita disuguhi foto hasil jepretan fotografer profesional. Foto-foto ini seakan bisa berbicara dan menggabungkan beberapa serpihan kecil dari suatu cerita besar.
Berkebun merupakan salah satu aktivitas bermain yang semakin jarang ditemukan di sekolah-sekolah. Banyak faktor mulai dari materi pembelajaran anak sekarang lebih dituntut pada kemampuan bahasa inggris, matematika, musik dll. Selain itu lahan hijau banyak yang disulap menjadi pusat perbelanjaan, real estate maupun gedung-gedung perkantoran terutama di kota-kota besar. Tidak mengherankan jika polusi udara meningkat tajam, banjir menjadi tamu langganan ibu kota dan efeknya pemanasan global semakin parah.
Miris hati ini melihat sesosok anak berusia belasan tahun. Pakaian kumal jarang bertemu dengan setrika kukira. Kulit kusam ditambah dengan rambut kemerahan. Matanya sayu tampak sedang menikmati hilir mudik berbagai kendaraan di belantara kota. Sesekali kulihat ia memegangi perutnya. Dengan sigap ia masuk bus kota. Tak pernah absen ia mengukur jalanan ibu kota. Bibirnya mulai mendendangkan lagu ditemani alunan alat musik sangat sederhana. Ah.. mimpi…