Arsip

[Mozaik Blog Competition] MENAKAR BUDAYA BACA MAHASISWA

Oleh: Talitha Huriyah

“Buku adalah jendela dunia.”

Begitulah pepatah berkata. Dengan buku orang bisa menjelajah nusantara bahkan dunia, karena di dalam buku tersimpan berbagai macam pengetahuan. Menyelami dalamnya kehidupan tanpa beranjak. Serupa jantung yang seniantiasa berdetak. Buku adalah kunci perubahan hidup. Baik perubahan diri, karakter sosial maupun secara makro perubahan peradaban. Hal inilah yang menjadikan buku sering disebut sebagai jendela dunia.

Tanggal 17 Mei menjadi hari yang dipilih secara simbolik sebagai Hari Buku Nasional. Perayaan dunia literasi ini hendaknya menjadi momentum pemantik kesadaran serta komitmen agar menjadikan buku sebagai menu prioritas dalam peningkatan kualitas dan aktualisasi diri. Melirik kemajuan suatu bangsa tidak bisa terlepas dari budaya membaca. Tengoklah Jepang, Amerika Serikat, Jerman bahkan Korea Selatan yang nota bene merdeka setelah Indonesia yakni pada tahun 1950 sudah mampu menguasai percaturan ekonomi dunia.

Bangsa-bangsa tersebut mempunyai derajat kompetisi tinggi. Mereka tidak pernah merasa puas dengan kemajuan yang telah dicapai. Akibatnya mereka aktif menggali banyak ilmu dan pengalaman dengan mengeksplorasi berbagai buku. Sebab dengan bukulah, peradaban dapat bergerak maju dan dinamis. Dari buku pula entitas peradaban menjadi redup ketika buku tidak lagi menjadi menu prioritas dan bahkan terabaikan. Sebab, data statistik menunjukkan bahwa budaya membaca berbanding linier dengan kualitas kecerdasan dan peradaban.

Menurut Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), awal kemajuan suatu negara, terutama bagi negara industri maju, ternyata mereka memiliki rata-rata membaca selama 8 jam/hari, sedangkan di negara berkembang, Lanjut membaca

여행 Tour de Solo Jenang Festival

Friday’s ago Litha and DLK’s family of Biro AAI UNS (just akhwat) spent a fascinating soul mate outing together at Ngarsopuro. Ya.. there was the first Jenang Festival to commemorate the 267th anniversary of this city.

Jenang Mutiara 'Kenyo Mesem'

There were 4 people from DLK: Ukhti Wahyu Setyowati, Ukhti Anindya R. Puspita, Ukhti Anggalia Novika, Ukhti Arifah (U. Wahyu’s friend) and me. Wanna got it for free, but in fact no body from us enjoyed the porridge. The reason is.. we didn’t like to fought with many people (sereem T.T) and Litha didn’t want to get Typhoid Fever again (hehe.. apa coba).

Nasi Liwet

Many villages organization esp. from ‘Ibu-Ibu PKK’ and government agencies participated there. Litha love flower (esp. rose) so much, and Alhamdulillah I got the Laos Flower free from Lanjut membaca

Kinerja KPK dalam Penanganan Kasus Korupsi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sengaja dibentuk sebagai lembaga independen untuk memberantas praktik korupsi di Indonesia. Kendati demikian, sejauh ini kinerjanya menunjukkan pasang surut. Lalu, bagaimanakah kalangan kampus menilai kinerja KPK selama ini?

Butuh Keselarasan Komponen Strategis

Talitha Huriyah

Universitas Sebelas Maret

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan institusi independen yang menjadi tumpuan harapan menuntaskan kasus korupsi di negeri ini. Beberapa kasus yang behasil dikuak akhir-akhir ini seperti korupsi proyek pembangunan Wisma Atlet dan korupsi penyuapan hakim.  Mutu kinerja KPK bisa dikatakan cukup bagus ditilik dari indeks korupsi di Indonesia yang semula 1,9 pada tahun 2003, meningkat menjadi 2,8 di tahun 2011. Angka ini merupakan buah dari perbaikan sistem administrasi serta penegakan di bidang hukum.

Namun pada 2010, kinerja KPK mendapat sorotan dari berbagai pihak dengan indikasi belum terselesaikannya beberapa kasus korupsi. Hal ini hendaknya menjadi pemantik untuk perbaikan kualitas KPK. Salah satunya dengan pembuatan road map pemberantasan korupsi nasional agar pelaksanaan pemberantasan korupsi lebih pro aktif, tidak hanya terfokus di tingkat pusat namun juga merambah hingga daerah.

Menurut hemat saya, peningkatan kinerja KPK membutuhkan keselarasan dari berbagai komponen strategis, yakni pemerintah, swasta dan masyarakat. Pemerintah di sini sebagai leader dalam pembenahan sistem pemberantasan korupsi. Diawali dari aparat penegak hukum yang ibaratnya sebagai “penjaga gawang” seperti Mahkamah Agung, jaksa, polisi serta TNI. Jika penegak hukumnya sudah bersih kemudian menyusul dari sektor lembaga pelayanan publik, seperti pajak, bea cukai, imigrasi, serta dari elemen swasta dan masyarakat.

*Harian Joglosemar, 9 Juni 2011

Antara Terorisme dan Mahasiswa

Aksi terorisme yang belakangan meresahkan masyarakat kita diketahui banyak melibatkan kalangan terpelajar. Bagaimanakah mahasiswa sebagai bagian kalangan terpelajar menanggapi hal ini?

Suplemen Agama Minim

Talitha Huriyah

Universitas Sebelas Maret

Ibarat dua sisi mata uang, mahasiswa sebagai intelektual muda mempunyai potensi sebagai agent of change dalam hal yang baik maupun buruk. Saya merasa miris ketika segudang karakter pemuda seperti kreatif, kritis, energik serta inovatif membelok dalam kasus terorisme yang marak akhir-akhir ini. Intimidasi serta pencucian otak merupakan inisiasi yang diduga sebagai bentuk perekrutan gerakan Negara Islam Indonesia.

Menurut saya bisa jadi hal ini disebabkan suplemen nilai agama yang minim didukung dengan kelabilan emosi. Selain itu, mahasiswa juga memiliki akses yang banyak di jejaring sosial dunia maya seperti Twitter, Facebook yang acapkali menjadi sarana merekrut anggota baru. Dari saya pribadi sebaiknya lebih berhati-hati dengan orang yang baru saja dikenal serta menguatkan pemahaman agama kita masing-masing.

*Harian Joglosemar, 5 Mei 2011

책 출시 LAUNCHING BUKU ‘PENGANTIN-PENGANTIN AL-QUDS’

Ini hanyalah sebuah cerita nan lirih

Mengalir dari hati – hati kami

Untuk sebuah cinta yang ingin bersuara

Meski hanya secuil

Ijinkan kami persembahkan dengan rasa yang tak biasa

~ 100% ROYALTI DARI PENJUALAN BUKU INI ~

~ DISUMBANGKAN UNTUK PALESTINA  ~

Penerbit : Pro-U Media

Penulis: Mas Sakti Wibowo, Kang Arul, Akhi Dirman, dkk

Cetakan I: Maret 2011

Bukan sebuah buku biasa.

Di dalamnya ada banyak cinta yang menyala.. untuk PALESTINA

Segera dapatkan dan beli ya.. :)

ASA DI TENGAH SERBUAN ROMAN PERCINTAAN

YOGYA – “Sedikit sekali cerpen tentang Negara Palestina yang ada saat ini, di tengah serbuan novel dan cerpen roman percintaan. Buktinya bisa kita lihat di toko-toko buku yang memajang buku-buku tersebut!. Jadi kumpulan cerpen ini luar biasa dan tentunya atas ijin Allah buku ini bisa terbit. Karena proses menulisnya pun singkat, namun mendapat apresiasi yang bagus dari penerbit sekelas Pro-U Media.” ujar Kang Arul dalam sebuah kesempatan launching dan bedah buku “Pengantin-Pengantin Al-Quds” di arena panggung Islamic Book Fair (IBF) ke-15 di GOR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rabu malam (3/5).

Kang Arul, Pak Edo, Mas Moderator

Pembicara lain dalam launching dan bedah buku “Pengantin-Pengantin Al-Quds” ini adalah Edo Segara sebagai inisiator antologi yang menyerahkan naskah ini ke penerbit Pro-U. “Buku ini sebenarnya digagas oleh satu penulis dalam buku ini, yakni Akhi Dirman Al-Amin. Saya sendiri tergerak untuk memasukkan ke penerbit Pro-U setelah membaca salah satu puisi dalam buku ini. Puisi tersebut ditulis oleh Cicik Novita. Isi puisi Cicik sangat menggugah dan menggerakkan saya untuk mengusulkan kepada Akhi Dirman, agar buku tersebut diterbitkan di Pro-U saja. Gayung pun bersambut, karena Mas Yusuf Maulana selaku chief editor penerbit Pro-U setuju dengan naskah tersebut. Selain itu, para penulis-penulis dalam naskah ini pun dinilai oleh Sakti Wibowo (Penulis skenario sinetron KCB) yang juga iku menulis dalam buku ini.” Ungkap Edo dengan semangat dalam forum tersebut.

Sedangkan Talitha Huriyah, Lanjut membaca

Launching Buku ‘PARA GURU KEHIDUPAN’

Alhamdulillah.. Semoga Bermanfaat

Berikut ini sekilas acara launching buku ‘Para Guru Kehidupan’. Kebetulan ada tulisan Litha yang nyangkut di situ ^__^ Alhamdulillah..

Sungguh membahagiakan, begitu kira-kira ungkapan kami selaku panitia pelaksanaan launching buku PARA GURU KEHIDUPAN yang diadakan di Toko Buku Leksika di bilangan Jakarta Selatan pada tanggal 22 April 2011 lalu.M embahagiakan karena selain merayakan buku pertama yang diterbitkan oleh www.geraibuku.com (kini geraibuku menjadi sayap penerbitan dari Penerbit PUSTAKA JAMIL yg telah lebih dahulu mencetak banyak buku-buku berkualitas sejak tahun 2008- red), juga karena pengunjung yang hadir pada kesempatan kali itu terlihat sangat menikmati acara demi acara yang digulirkan. Terutama sekali saat pembacaan naskah-naskah yang ada di dalam buku tersebut.

Para Penulis 'PARA GURU KEHIDUPAN'

Kami melihat beberapa hadirin ikut menangis ketika naskah-naskah itu dibacakan oleh para penulisnya sendiri. Tak urung tentu saja para penulisnya pun ketika membaca larut dalam emosinya sendiri, seperti Lya Herlianti yang tak kuasa membendung airmatanya yang jatuh ketika membacakan naskahnya yang berjudul “Sang Pembuka Hati.” yang bercerita mengenai pengalaman pribadinya dengan Jossete, sahabatnya di Belanda yang menyadarkannya akan cinta yang telah lama hilang.

Demikian juga dengan Mbak Wiwiek ketika membacakan kisahnya tentang Ibu yang selalu menjadi peneduh ketika masalah demi masalah datang menghampiri, audiens pun ikut merasakan betapa damainya memiliki seorang ibu yang begitu mencintai putrinya. Sebagaimana juga Achi TM ketika membacakan naskahnya yang bercerita tentang pengalaman pribadinya bersama ayahanda tercinta sebelum beliau wafat, keputusan Achi untuk terus meraih mimpi-mimpinya melalui dorongan semangat sang Ayah membuatnya kini semakin percaya diri menapaki setiap langkahnya di dunia literasi.

Berbeda lagi dengan Wahyu Widianingrum ketika membacakan naskahnya yang menceritakan tentang pelajaran berharga dari dosennya dengan cara Menuliskan Mimpi, hadirin dibuat tergelak dan senyum-senyum demi mengikuti kisah yang dituturkannya.

Acara ini juga turut diramaikan dengan pertunjukan Teater Pusat Bumi yang dibawakan Nadia Sarah Adzani bersama 2 orang rekannya, pembacaan puisi karya Epri Tsaqib oleh Achi TM dan Musik serta lagu oleh Niko dan Niki dari RUmah Pena.

NikO-Niki Menyumbang Lagu untuk Meramaikan

Para penulis yang hadir pada kesempatan launching kali ini adalah Adyana, Aisha Evicenna, Trimanto. Setiawan CHogah, WIekerna, Jaka Lelana, Lya Herlianti, Zakiyah Kamil, Wahyu WIdianingrum, Wylvera, Nadia Sarah Adzani, Regantini, Achi TM, Mabruri, dan Epri Tsaqib.

Kami juga ikut berterimakasih untuk para penulis lainnya yang belum bisa hadir dalam acara ini yakni Lanjut membaca

훈련 Silaturahim Akbar FLP Soloraya

Dapet sms dari mba Tias suruh buat ager biar ngelancarin tenggorokan ?_? Berhubung stock masih banyak akhirnya buat juga. Pilih yang jeruk, dengan gula setengah dari ukuran normal. Hmmzz.. jadi adeem.


Ahadnya ke Muslim Fair ikut Talk Show Creative Writing yang diselenggarakan oleh FLP Ranting Pelangi. Pembicaranya ada Kang NasS, Mba Deasylawati. Mba Asri sama Mas Fachmy. Makasih banyak untuk sudah berbagi ilmu kanuragannya. Masih sempet keliling-keliling di stand buku bareng Apri. Had to get the most important book on the last day….

Anggota laskar Kang NasS ngumpul bentar,  kami sepakat dengan dresscode batik. Hohoho, kayaknya yang putra cuman Ndaru yaang taat. Bahas jaket, kain dan designnya. Makasih banyak Umar untuk semua designnya juga pin* gratisnya. Litha suka banget, dulu request warna ungu. Alhamdulillah dibuatin ungu juga :) *Liat foto di bawah. Oya, logo di atas yang buat Kang NasS, Insya Allah mau kami pake selanjutnya.


Langsung sholat maghrib, keluar dari Goro nyari masjid. Di masjid ketemu rombongan musafir Negri Parahyangan. *Menguji kesabaran ^_^’  Balik ke stand buku, ternyata tinggal 3 biji itupun ketutup sama buku yang lain. Alhamdulillah dapet diskon 30%. Ada kejadian yang lumayan menohok Litha dan Apri, tapi akhirnya covered dengan senyum dikulum.

“Dengan segitu banyak perhatian… kurang apa coba?” pikiran sama antara Litha dan Apri.

Semakin lama dipikir semakin liyeeuuurr! :) Dijalani saja.

Terimakasih banyak dek Apri manis sudah jadi soulmate di hari indah ini. You are the inspiring one!

MENAMPILKAN FOTO PROFIL FB DAN FRIEND LIST YANG TERBLOKIR

masvee.wordpress.com

Keseringan tangan iseng klak-klik-klak-klik. Sewaktu di profil FB, ngeklik kanan foto dan ngeklik Block images from profile.ak.fbcd. Hasilnya… TARRA!! Foto profile dan foto teman-teman di friend list lenyap.

Setelah ditelusuri… dari FB Mbak Tias yang kebetulan search engine-nya Google Chrome profile Litha baik-baik aja. Ada kok, nggak ngumpet. Di tempat mas Djoko yang pake Internet Explore juga tak ada bedanya. Hhmm.. sepertinya dari browser Litha aja. Kebetulan Litha pakainya Firefox.

Penasaran.. misal buka-buka lewat Google Chrome, gambarnya tetep ada. Aha! Ini pasti ke-block di Firefox aja. Dan solusinya klik  di menu bagian atas *kebetulan settingan Firefox tempat Litha in English* :

Tools → Options → Content → Load images automatically → Exceptions → Remove all sites → OK

atau

Alat → Pengaturan → Pastikan muat gambar secara otomatis → Pengecualian → Hapus semua situs → OK

Silakan cek di Facebook Anda. Semoga berhasil!!!

Litha dengan tugas-tugas Hangeul dari Fajar Seonsaengnim

빨리 Belajar Menghormat ala Korea Selatan dan Budaya Cepat-Cepat

culturechina.com

Hari kedua di Kantor Korea Federation Small Bussines, diisi dengan belajar adat istiadat dan budaya Korea Selatan. Diantara yang kami pelajari adalah cara menghormat. Di Korea Selatan orang muda kalau bertemu dengan orang yang lebih tua yang dikenalnya, maka yang muda harus memberikan hormat kepada yang tua. Demikian juga di lingkungan perusahaan, maka yang berpangkat atau berposisi lebih rendah harus memberi hormat pada yang lebih tinggi jabatanya. Cara menghormatnya juga sangat santun, yaitu dengan membungkukkan badan, bukan hanya sekedar menundukan kepala. Jadi, begitu kita berpapasan dengan orang yang kita hormati, maka langsung kita membungkukan badan seperti orang yang ruku waktu sholat, tapi kedua tangan masih menempel di samping kanan dan kiri paha. Bersamaan dengan membungkuk, maka kita juga mengucapkan salam “Annyong Haseyo“. Kemudian kita kembali tegap. Itulah cara meghormat orang di Korea Selatan dan juga Korea Utara. Begitu sopan. Tapi seingat saya, dulu waktu saya kecil, ketika itu Bapak Kepala Sekolah SD yang datang ke rumah kami berpamitan hendak pulang. Kemudian bapak saya mengantar Kepala Sekolah ini sampai di depan rumah. Dan ketika Pak Kepala Sekolah pamit, bapak juga membungkukan badan. Jadi Bangsa kita juga sangat sopan sebenarnya, tapi sayang yang seperti ini tidak lagi terlihat sekarang ini.

Selain belajar cara menghormat, kita juga belajar tentang budaya pali-pali (cepat-cepat) dalam bekerja. Instruktur kami di hari kedua kami di KFSB berpesan. Nanti kalau di tempa bekerja pasti akan sering terdengar kata pali-pali. Ini artiya adalah kalimat perintah yang berarti cepat-cepat. Dan nampaknya aku juga sudah merasakan benarnya pesan instruktur ini. Karena dalam 1 sampai 2 hari ini, kami semua sudah mendengar kata pali-pali ini. Kata-kata ini kita dengar pada waktu senam tadi pagi, perisapan pada waktu kami mulai belajar hari ini, juga pada waktu kami berjalan dari kamar menuju kelas tempat kami belajar juga diiringi kata pali-pali. Belakangan hari, Lanjut membaca

Perlu Orang “Gila” untuk Membangun Indonesia

Tulisan menarik tentang pengalaman tim olimpiade astronomi Indonesia yang dimuat di E-Mail Ajinomoto Scholarship, lalu diforward  di http://www.facebook.com/home.php?#!/note.php?note_id=466406719855

Semoga menjadi hikmah, inspirasi, dan motivasi

Salam dari Jayapura! Kami bertiga baru saja keluardari pedalaman Tolikara menyaksikan Olimpiade Astronomi se Asia-Pacific. Hasilnya? Pelajar2 Indonesia menduduki urutan ke-2 dari 9 negara, denganperolehan 1 medali emas, 2 perak dan 4 perunggu. Korea Selatan di urutanpertama dengan 2 emas. Indonesia berada diatas China, Rusia Kazakshtan,Kyrgistan, Nepal, Cambodia, dan Bangladesh. Lebih mengejutkan lagi, 3 medaliperunggu Indonesia di raih oleh pelajar asal Tolikara, kabupaten terpencil diTolikara, yang selama ini mengalami keterbelakangan pendidikan dan SDM. DariTolikara, Indonesia belajar!

source: bhagas.blogspot.com

Yohanes Surya ketemu dengan seorang “gila” lainnya bernama John Tabo, orang Papua, Bupati Tolikara,pegunungan tengah Papua, kabupaten baru yang terisolir dan hanya bisa dicapai dengan naik pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena disambung berkendaraan off-road selama 4 jam, daerah dimana laki-laki tanpa celana dan perempuan tanpapenutup dada, ditemukan dimana-mana. John Tabo, tanpa diduga, bersedia menjadisponsor pelaksanaan APAO di Indonesia, selain menjadi tuan rumah, dia jugamendanai seluruh biaya persiapan tim olimpiade Indonesia yang datang dariberbagai daerah di Indonesia termasuk dari Papua, selama 1 tahun. John Tabomembangun tempat khusus (hotel) untuk menjadi venue olimpiade ini. Orang yangberfikir normal pasti bilang, untuk apa John gila ini urusin Olimpiadeastronomi seperti ini? bukankah masih banyak persoalan internal kabupaten yangharus dia selesaikan? mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi dan berbagaiinfrastruktur dasar? Cari kerjaan dan masalah saja!

John Tabo melakukan terobosan “gila”. Dana diambil dari Lanjut membaca